Perkembangan Kepribadian Guru
Mata Kuliah : Perkembangan Kepribadian Guru
UJIAN AKHIR SEMESTER
21. Dalam tataran praksisnya, terkadang masih ada yang menggunakan system militerisme. Bagaimanakah side effec dari system pendidikan tersebut? Apakah seorang guru tidak diperkenankan bersifat tegas? Jelaskan!
Pengasuhan yang otoriter (militerisme) ialah suatu gaya membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua(guru) dan menghormati usaha dan pekerjaan. Anak sama sekali tidak diberi kebebasan untuk mengungkapkan keinginannya. Side efffek dari sistem militerisme : Anak-anak yang dididik dengan otoriter seringkali cemas akan perbandingan sosial, gagal memprakarsai kegiatan, sulit berkosentrasi dan memiliki keterampilan komunikasi yang rendah. (Jhon. W. Santrock. 2002:257).
Pendidikan dilakukan tidak semata-mata dengan perkataan, tetapi dengan sikap, tingkah laku dan perbuatan. Guru adalah sosok arsitektur yang dapat membentuk jiwa dan watak anak didiik. Ketegasan, empati, adil, sabar, dan kesediaannya yang relatife tinggi untuk mengkomunikasikan dirinya dengan faktor-faktor ekstern, merupakan karakteristik dari keterbukaan psikologis pribadi yang harus dimiliki seorang guru, yang menjadi faktor menentukan keberhasilan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, sehingga anak didiknya memiliki kedisiplinan (muhibbin Syah.2004:228). Moh. Uzer Usman dalam bukunya Menjadi Guru Profesional menuturkan diantara kompetensi kepribadian guru adalah :
Memiliki kepribadian yang arif, cirinya menunjukan prilaku yang bermanfaat bagi peserta didik, sekolah dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak tegas.
Memiliki kepribadian yang berwibawa, yaitu perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani.
Dapat disimpulkan, Guru seyogyanya memiliki ketegasan dan mengajar dengan cara persuasife yang menunjukkan sosok yang memiliki kepribadian yang dapat dijadikan contoh bagi anak didiknya. Seperti yang dikatan oleh Muhibbin Syah (2004:225). Kepribadian adalah faktor yang sangat berpengaruh terrhadap keberhasilan seorang guru sebagai pengembang sumber daya manusia (peserta didik).
22. Uraikan menurut anda tentang tipologi seorang guru profesional! Sebutkan langkah-langkah untuk menciptakan guru professional!
Tipologi seorang guru professional :
a) Memiliki kualifikasi pendidikan profesi yang memadai
b) Memiliki kompetensi keilmuan sesuai dengan bidang yang ditekuninya
c) Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anak didiknya
d) Mempunyai jiwa yang kreatif dan produktif
e) Mempunyai etos kerja dan komitmen tinggi terhadap profesinya
f) Selalu mengembangkan diri terus-menerus (continous improvement)melalui organisasi profesi, internet, buku, seminar dan semacamnya
Dengan begitu, maka tugas guru bukan lagi knowladge based, seperti sekarang ini, tetapi lebih bersifat competency based. Guru tidak akan lagi tampil sebagai pengajar, tetapi beralih fungsi sebagai pelatih, pembimbing dan manager belajar (Sidi,2003 dalam buku Dilema Guru hal 105, Isjoni).
Isjoni (2007:110) mengungkapkan, Peningkatan profesionalisme hendaknya dilaksanakan secara terpadu, konsepsional dan sistematis. Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menciptakan guru professional :
a) Mengikuti kegiatan ilmiah seperti seminar, lokakarya, studi banding, dsb.
b) Mengikuti penataran atau pendidikan lanjutan.
c) Melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
d) Menelaah kepustakaan, membuat karya ilmiah.
e) Memasuki organisasi profesi.
Pemerintah melalui presiden sudah mencanangkan guru sebagai profesi pada tanggal 2 Desember 2004, guru sebagai profesi dikembangkan melalui :
a) Sistem pendidikan
b) Sistem penjaminan mutu
c) Sistem manajemen
d) Sistem remunerasi
e) Sistem pendukung profesi guru
23. Jelaskan perbedaan antara profesi, profesionalitas, profesionalisasi, profesionalisme dalam kontek pendidikan!
Muhibbin Syah(2004:230) menjelaskan. Guru profesional adalah guru yang melaksanakan tugas keguruan dengan kemampuan tinggi (profisiensi) sebagai sumber kehiidupan.
a. Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh melalui pendidikan akademis yang intensif (Webstar, 1989 dalam buku Dilema Guru hal 98, Isjoni).
b. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen).
c. Profesionalisasi adalah upaya atau proses untuk menjadi profesional dalam bidang tertentu (Isjoni, 2007:109)
d. Profesionalisme adalah kualitas dan tindak-tanduk khusus yang merupakan cirri orang profesional (Muhibbin Syah, 2004:230).
e. Profesionalitas, kata yang terkadang dipakai oleh para pengarang buku kita, sesungguhnya tidak ada, karena kata profesionality yang dikira bentuk asli dari profesionalitas itu tidak dikenal, kecuali mungkin dalam angan-angan pengarang saja (Muhibbin Syah, 2004:230). Atau seperti ungkapan Isjoni (2007:109) Profesionalitas merupakan kualitas profesionalisme.
24. Apa yang menyebabkan para guru tidak professional dalam menjalankan tugas dan fungsinya? Bagaimana solusinya? Jelaskan!
Penyebab para guru tidak professional :
a) Buruknya kepribadian yang dimilki guru
b) Tidak memiliki komptensi pedagogik yang memadai untuk mengajar
c) Rendahnya tingkat kesejahteraan guru yang mengakibatkan tidak bisa optimal dalam tugas dan fungsinya sebagai pendidik karena selalu mengurusi persoalan ekonomi keluarga.
d) Banyak guru yang memaksakan mengajar bukan pada bidang keahliannya
e) Banyak guru yang mengajar tidak karena panggilan jiwa dan hati nurani, tetapi menjadi guru karena tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik
f) Senantiasa dikelola oleh birokrat yang tidak memiliki latar belakang guru, menjadikan profesi guru tidak berpestise sehingga tidak menarik minat orang-orang muda yang berbakat
g) Guru pun tak bangga dengan diri dan pekerjaannya sehingga menderita sindrom degradasi profesi (Dikutip dari berbagai media berita dan buku Dilema Guru)
Solusi untuk hal tersebut ialah :
a) Melakukan langkah-langkah untuk meciptakan guru yang profesional seperti telah disebutkan pada jawaban no 22 dan melalui beberapa pendekatan, antara lain melalui pelaksanaan tugas, melalui responsi, melalui penelusuran dan perkembangan diri, dan melalui dukungqn sistem
b) Merubah persepsi dan pola fikir guru terhadap tugas pokok mengajar,
c) Membentuk kepribadian guru yang positif, komitmen terhadap tugas dan tanggung jawab profesi
d) Tidak lagi memposisikan guru untuk mengajar pelajaran yang bukan bidang keahliannya.
e) Program penyetaraan dan pemberian beasiswa bagi guru untuk melanjutkan jenjang akademisnya
f) Program legalitisasi profesi guru dengan akreditasi, sertifikasi dan lisensi
25. Apakah faktor utama yang menyebabkan bobroknya pendidikan nasional ini dikarenakan para gurunya tidak profesional? Jelaskan alasannya!
Bobroknya pendidikan nasional ini disebabkan oleh para gurunya tidak profesional. Sebagai pendidik atau pengajar, guru merupakan salah satu faktor penentu kecemerlangan atau kebobrokan dalam pendidikan. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pendidikan, khususnya dalam kurikulum dan peningkatan SDM yang dihasilkan pendidikan selalu bermuara pada guru. Hal ini menunjukan bahwa guru merupakan faktor utama dalam pendidikan seperti yang diungkapan oleh Zakiah Drajat (1982) tentang faktor kepribadian guru yang menjadi syarat khusus bagi seorang pendidik, “Kepribadian itulah yang akan menentukan apakah menjadi pendidik atau pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi penghancur bagi hari depan anak.”
Penyebab yang lainnya juga ialah kurikulum. Banyak kritikan yang tajam terhadap kurikulum, antara lain kurikulum terlalu padat, memberatkan anak, merepotkan guru. Dan Pemerintah yang menjadi pemberi keputusan terhadap pendidikan juga menjadi dalangnya. Disamping itu, pemerintah juga kurang memperhatikan kesejahteraan guru, yang mengakibatkan tidak bisa optimal dalam tugas dan fungsinya sebagai pendidik karena selalu mengurusi persoalan ekonomi keluarga. Namun dalam hal ini, tetap saja yang menjadi penyebab utamanya adalah ketidakprofesionalan guru dalam melaksanakan kurikulum dan menjalankan tugasnya yang tidak komitmen terhadap profesinya, sehingga murid malah terlantar di tempat penongkrongan. Dalam menghadapi masalah yang ada, guru yang tidak profesional banyak yang salah mengambil jalan penyelesaiannya. Juga terlihat dalam martabat guru di masyarakat, saat ini tidak begitu dihormati, karena seringnya terjadi ketidak harmonisan interaksi seperti pelecehan, kekerasan, politik perdagangan dalam pendidikan. Banyak guru yang memaksakan mengajar bukan pada bidang keahliannya dan tidak memiliki kompetensi pedagogik.
Referensi :
Isjoni . 2007. Dilema Guru Ketika Pengabdian Menuai Kritikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo
Jhon. W. Santrock. 2002. Live-Span Development (Perkembangan Masa Hidup),Surabaya: PT Gelora Aksara Pratama
Uzer, Usman Moh. 2007.Menjadi Guru Profesional. Bandung
Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan, Bandung : Rosda
Tribun Jabar
UJIAN AKHIR SEMESTER
21. Dalam tataran praksisnya, terkadang masih ada yang menggunakan system militerisme. Bagaimanakah side effec dari system pendidikan tersebut? Apakah seorang guru tidak diperkenankan bersifat tegas? Jelaskan!
Pengasuhan yang otoriter (militerisme) ialah suatu gaya membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua(guru) dan menghormati usaha dan pekerjaan. Anak sama sekali tidak diberi kebebasan untuk mengungkapkan keinginannya. Side efffek dari sistem militerisme : Anak-anak yang dididik dengan otoriter seringkali cemas akan perbandingan sosial, gagal memprakarsai kegiatan, sulit berkosentrasi dan memiliki keterampilan komunikasi yang rendah. (Jhon. W. Santrock. 2002:257).
Pendidikan dilakukan tidak semata-mata dengan perkataan, tetapi dengan sikap, tingkah laku dan perbuatan. Guru adalah sosok arsitektur yang dapat membentuk jiwa dan watak anak didiik. Ketegasan, empati, adil, sabar, dan kesediaannya yang relatife tinggi untuk mengkomunikasikan dirinya dengan faktor-faktor ekstern, merupakan karakteristik dari keterbukaan psikologis pribadi yang harus dimiliki seorang guru, yang menjadi faktor menentukan keberhasilan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, sehingga anak didiknya memiliki kedisiplinan (muhibbin Syah.2004:228). Moh. Uzer Usman dalam bukunya Menjadi Guru Profesional menuturkan diantara kompetensi kepribadian guru adalah :
Memiliki kepribadian yang arif, cirinya menunjukan prilaku yang bermanfaat bagi peserta didik, sekolah dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak tegas.
Memiliki kepribadian yang berwibawa, yaitu perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani.
Dapat disimpulkan, Guru seyogyanya memiliki ketegasan dan mengajar dengan cara persuasife yang menunjukkan sosok yang memiliki kepribadian yang dapat dijadikan contoh bagi anak didiknya. Seperti yang dikatan oleh Muhibbin Syah (2004:225). Kepribadian adalah faktor yang sangat berpengaruh terrhadap keberhasilan seorang guru sebagai pengembang sumber daya manusia (peserta didik).
22. Uraikan menurut anda tentang tipologi seorang guru profesional! Sebutkan langkah-langkah untuk menciptakan guru professional!
Tipologi seorang guru professional :
a) Memiliki kualifikasi pendidikan profesi yang memadai
b) Memiliki kompetensi keilmuan sesuai dengan bidang yang ditekuninya
c) Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anak didiknya
d) Mempunyai jiwa yang kreatif dan produktif
e) Mempunyai etos kerja dan komitmen tinggi terhadap profesinya
f) Selalu mengembangkan diri terus-menerus (continous improvement)melalui organisasi profesi, internet, buku, seminar dan semacamnya
Dengan begitu, maka tugas guru bukan lagi knowladge based, seperti sekarang ini, tetapi lebih bersifat competency based. Guru tidak akan lagi tampil sebagai pengajar, tetapi beralih fungsi sebagai pelatih, pembimbing dan manager belajar (Sidi,2003 dalam buku Dilema Guru hal 105, Isjoni).
Isjoni (2007:110) mengungkapkan, Peningkatan profesionalisme hendaknya dilaksanakan secara terpadu, konsepsional dan sistematis. Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menciptakan guru professional :
a) Mengikuti kegiatan ilmiah seperti seminar, lokakarya, studi banding, dsb.
b) Mengikuti penataran atau pendidikan lanjutan.
c) Melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
d) Menelaah kepustakaan, membuat karya ilmiah.
e) Memasuki organisasi profesi.
Pemerintah melalui presiden sudah mencanangkan guru sebagai profesi pada tanggal 2 Desember 2004, guru sebagai profesi dikembangkan melalui :
a) Sistem pendidikan
b) Sistem penjaminan mutu
c) Sistem manajemen
d) Sistem remunerasi
e) Sistem pendukung profesi guru
23. Jelaskan perbedaan antara profesi, profesionalitas, profesionalisasi, profesionalisme dalam kontek pendidikan!
Muhibbin Syah(2004:230) menjelaskan. Guru profesional adalah guru yang melaksanakan tugas keguruan dengan kemampuan tinggi (profisiensi) sebagai sumber kehiidupan.
a. Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh melalui pendidikan akademis yang intensif (Webstar, 1989 dalam buku Dilema Guru hal 98, Isjoni).
b. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen).
c. Profesionalisasi adalah upaya atau proses untuk menjadi profesional dalam bidang tertentu (Isjoni, 2007:109)
d. Profesionalisme adalah kualitas dan tindak-tanduk khusus yang merupakan cirri orang profesional (Muhibbin Syah, 2004:230).
e. Profesionalitas, kata yang terkadang dipakai oleh para pengarang buku kita, sesungguhnya tidak ada, karena kata profesionality yang dikira bentuk asli dari profesionalitas itu tidak dikenal, kecuali mungkin dalam angan-angan pengarang saja (Muhibbin Syah, 2004:230). Atau seperti ungkapan Isjoni (2007:109) Profesionalitas merupakan kualitas profesionalisme.
24. Apa yang menyebabkan para guru tidak professional dalam menjalankan tugas dan fungsinya? Bagaimana solusinya? Jelaskan!
Penyebab para guru tidak professional :
a) Buruknya kepribadian yang dimilki guru
b) Tidak memiliki komptensi pedagogik yang memadai untuk mengajar
c) Rendahnya tingkat kesejahteraan guru yang mengakibatkan tidak bisa optimal dalam tugas dan fungsinya sebagai pendidik karena selalu mengurusi persoalan ekonomi keluarga.
d) Banyak guru yang memaksakan mengajar bukan pada bidang keahliannya
e) Banyak guru yang mengajar tidak karena panggilan jiwa dan hati nurani, tetapi menjadi guru karena tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik
f) Senantiasa dikelola oleh birokrat yang tidak memiliki latar belakang guru, menjadikan profesi guru tidak berpestise sehingga tidak menarik minat orang-orang muda yang berbakat
g) Guru pun tak bangga dengan diri dan pekerjaannya sehingga menderita sindrom degradasi profesi (Dikutip dari berbagai media berita dan buku Dilema Guru)
Solusi untuk hal tersebut ialah :
a) Melakukan langkah-langkah untuk meciptakan guru yang profesional seperti telah disebutkan pada jawaban no 22 dan melalui beberapa pendekatan, antara lain melalui pelaksanaan tugas, melalui responsi, melalui penelusuran dan perkembangan diri, dan melalui dukungqn sistem
b) Merubah persepsi dan pola fikir guru terhadap tugas pokok mengajar,
c) Membentuk kepribadian guru yang positif, komitmen terhadap tugas dan tanggung jawab profesi
d) Tidak lagi memposisikan guru untuk mengajar pelajaran yang bukan bidang keahliannya.
e) Program penyetaraan dan pemberian beasiswa bagi guru untuk melanjutkan jenjang akademisnya
f) Program legalitisasi profesi guru dengan akreditasi, sertifikasi dan lisensi
25. Apakah faktor utama yang menyebabkan bobroknya pendidikan nasional ini dikarenakan para gurunya tidak profesional? Jelaskan alasannya!
Bobroknya pendidikan nasional ini disebabkan oleh para gurunya tidak profesional. Sebagai pendidik atau pengajar, guru merupakan salah satu faktor penentu kecemerlangan atau kebobrokan dalam pendidikan. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pendidikan, khususnya dalam kurikulum dan peningkatan SDM yang dihasilkan pendidikan selalu bermuara pada guru. Hal ini menunjukan bahwa guru merupakan faktor utama dalam pendidikan seperti yang diungkapan oleh Zakiah Drajat (1982) tentang faktor kepribadian guru yang menjadi syarat khusus bagi seorang pendidik, “Kepribadian itulah yang akan menentukan apakah menjadi pendidik atau pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi penghancur bagi hari depan anak.”
Penyebab yang lainnya juga ialah kurikulum. Banyak kritikan yang tajam terhadap kurikulum, antara lain kurikulum terlalu padat, memberatkan anak, merepotkan guru. Dan Pemerintah yang menjadi pemberi keputusan terhadap pendidikan juga menjadi dalangnya. Disamping itu, pemerintah juga kurang memperhatikan kesejahteraan guru, yang mengakibatkan tidak bisa optimal dalam tugas dan fungsinya sebagai pendidik karena selalu mengurusi persoalan ekonomi keluarga. Namun dalam hal ini, tetap saja yang menjadi penyebab utamanya adalah ketidakprofesionalan guru dalam melaksanakan kurikulum dan menjalankan tugasnya yang tidak komitmen terhadap profesinya, sehingga murid malah terlantar di tempat penongkrongan. Dalam menghadapi masalah yang ada, guru yang tidak profesional banyak yang salah mengambil jalan penyelesaiannya. Juga terlihat dalam martabat guru di masyarakat, saat ini tidak begitu dihormati, karena seringnya terjadi ketidak harmonisan interaksi seperti pelecehan, kekerasan, politik perdagangan dalam pendidikan. Banyak guru yang memaksakan mengajar bukan pada bidang keahliannya dan tidak memiliki kompetensi pedagogik.
Referensi :
Isjoni . 2007. Dilema Guru Ketika Pengabdian Menuai Kritikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo
Jhon. W. Santrock. 2002. Live-Span Development (Perkembangan Masa Hidup),Surabaya: PT Gelora Aksara Pratama
Uzer, Usman Moh. 2007.Menjadi Guru Profesional. Bandung
Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan, Bandung : Rosda
Tribun Jabar
0 Response to "Perkembangan Kepribadian Guru"
Post a Comment